Malam itu, hujan turun pelan di luar jendela. Di meja belajar di sudut kamar, seorang perempuan duduk memandangi secarik kertas kosong. Pena di tangannya bergetar, bukan karena dingin, tapi karena beratnya kata-kata yang hendak ia tulis: perjanjian pranikah.
![]() |
| Ia menulis, perlahan dan pasti — bukan untuk membatasi cinta, tapi untuk menjaga kemanusiaan di dalamnya. |
Bukan, bukan karena ia tak percaya pada cinta. Justru
karena ia menghormatinya.
Ia ingin memastikan, jika suatu hari nanti rumah
tangga yang ia bangun tak lagi menjadi tempat yang aman — ia punya hak untuk
pulang, tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Baginya, kesetiaan bukan diukur dari seberapa lama
seseorang bertahan. Kesetiaan sejati adalah bagaimana seseorang tetap menjaga
kemanusiaan dalam hubungan itu.
Karena apa artinya bertahan, bila tangan yang dulu
menggenggam dengan kasih kini berubah menjadi pukulan? Apa gunanya cinta, bila
kata-kata yang dulu menenangkan kini menjadi luka yang menembus hati —
dilakukan dengan sadar, tanpa penyesalan?
Ia tahu, itu bukan sekadar kesalahan kecil. Itu
pelanggaran terhadap martabat manusia — terhadap jiwa yang seharusnya
dilindungi.
Ia pernah membaca hasil penelitian yang meneguhkan
hatinya: kekerasan dalam hubungan pasangan tidak hanya meninggalkan luka di
batin, tetapi juga dapat mengubah cara kerja otak dan melemahkan fungsi
kognitif seseorang (Chan et al., 2024). Rasa takut yang berulang, kata-kata
yang merendahkan, dan pengkhianatan yang dilakukan tanpa refleksi perlahan
membuat seseorang kehilangan kejernihan berpikir — bahkan kehilangan
kepercayaan pada dirinya sendiri.
Dan ketika seseorang kehilangan kepercayaan pada
dirinya, ia kehilangan rumah di dalam dirinya.
Tak ada lagi tempat yang bisa disebut pulang.
Kita sering diajarkan untuk bertahan, katanya dalam
hati.
Tapi sebenarnya, yang lebih penting dari bertahan
adalah menemukan tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa rasa
takut. Tempat yang bisa disebut rumah — bukan hanya karena ada atap di atasnya,
tapi karena ada ketenangan di dalamnya.
Ia menatap lembaran kertas itu lagi.
Baginya, pernikahan bukan sekadar tentang bertahan.
Pernikahan adalah tentang saling menjaga agar tetap waras, tenang, dan
manusiawi. Cinta sejati tidak menuntut satu pihak untuk hancur demi yang lain;
cinta sejati menumbuhkan, bukan melukai.
Dalam keheningan malam, pikirannya melayang pada sosok
yang pernah menginspirasinya — Princess Diana, the Queen of People’s Hearts.
Princess Diana pernah menunjukkan bahwa kelembutan
bukanlah tanda kelemahan. Ia adalah keberanian untuk tetap berempati, bahkan
ketika dunia terlihat tidak adil.
Ia tetap menjadi cahaya di tengah kekacauan, bahkan
ketika hidupnya sendiri dipenuhi bayangan.
Perempuan itu menarik napas panjang. Pena di tangannya
akhirnya bergerak.
Ia menulis bukan karena takut, tapi karena cinta —
cinta pada dirinya sendiri, pada hidupnya, dan pada kemanusiaannya.
Mungkin, pikirnya, cinta yang paling mulia bukanlah
cinta yang bertahan dalam luka.
Melainkan cinta yang tahu kapan harus melepaskan —
demi menyelamatkan jiwa yang hampir hilang agar tetap menjadi manusia yang
bermartabat.
Dan di saat itu juga, ia menyadari sesuatu:
Rumah sejati bukan tempat di mana kita bertahan,
melainkan tempat di mana kita tetap menjadi diri
sendiri — tanpa takut disakiti.
Referensi:
Chan, J. P., Harris, K. A., Berkowitz, A., Ferber, A.,
Greenwald, B. D., & Valera, E. M. (2024). Experiences of domestic violence
in adult patients with brain injury: A select overview of screening, reporting,
and next steps. Brain Sciences, 14(7), 716. https://www.mdpi.com/2076-3425/14/7/716
