Di tengah lajunya pertumbuhan ekonomi global, kita
dihadapkan pada paradoks besar: lapangan pekerjaan meningkat, tapi
kesejahteraan manusia tidak ikut naik. Banyak pekerjaan baru tercipta, namun
gaji layak masih menjadi impian bagi sebagian besar tenaga kerja. Fenomena ini
menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi belum sejalan dengan prinsip Sustainable
Development Goals (SDGs) No. 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi
berkelanjutan.
Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan
(AI), semakin memperlebar jurang kesejahteraan manusia. Perusahaan teknologi
raksasa dengan pendapatan miliaran dolar kini hanya mempekerjakan segelintir
orang. Telegram, misalnya, beroperasi dengan sekitar 30 karyawan—sebuah
efisiensi yang sering dipuji sebagai kisah sukses modern pada sistem kerja.
Di sisi lain, Twitter—yang kini dikenal sebagai
X—meski memangkas lebih dari 7.500 pekerja hingga menyisakan sekitar 2.000
orang. Pemiliknya, Elon Musk, aktif dalam gerakan filantropi global seperti The
Giving Pledge, berkomitmen menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk
kemanusiaan.
Lalu, bagaimana mungkin kemajuan teknologi yang
seharusnya mempermudah hidup justru mempersempit kesempatan manusia untuk
bekerja dan hidup layak?
Denny JA, dalam tulisannya berjudul “Dan Artificial
Intelligence Pun Diangkat Menjadi Menteri”, turut menyoroti persoalan ini. Ia
menulis bahwa AI mungkin mampu mengambil keputusan yang lebih efisien, tetapi
pertanyaannya: apakah AI juga mampu mengambil keputusan yang lebih bijak?
AI bekerja luar biasa cepat, efisien, dan logis. Namun
di balik kemampuan komputasinya, AI tidak memiliki rasa. Hal ini menjadi batas
besar antara kecerdasan dan kebijaksanaan.
Kebijaksanaan lahir dari kemampuan seseorang untuk
berpikir dengan tenang, sabar, dan adil; untuk mau belajar dari kesalahan
secara reflektif; serta untuk memahami perasaan orang lain melalui empati.
Sifat reflektif ini sangat berkaitan dengan kecerdasan
emosional (emotional intelligence) — salah satu soft skill paling berharga di
era teknologi saat ini.
Bersikap reflektif berarti mampu merenung secara sadar
agar dapat belajar dan berkembang dari pengalaman pribadi.
Sebaliknya, AI tidak memiliki kemampuan ini, karena
pada dasarnya AI diciptakan untuk menemukan pola dari data dan perintah, bukan
untuk merenungkan makna dari tindakannya.
Dengan kata lain, AI tidak dapat berjalan tanpa
manusia yang menggerakkan, melatih, dan menilai hasilnya.
Kecerdasan emosional inilah yang menjembatani
perbedaan mendasar antara kecerdasan buatan (AI) dan kecerdasan manusia.
Penelitian berjudul Hubungan antara Kepadatan Otak dan
Kecerdasan Emosional: Temuan dari Pemetaan Otak Berbasis Voxel (Takeuchi Hikaru
dkk., 2011) menunjukkan bahwa kecerdasan emosional manusia terbagi ke dalam
tiga faktor utama:
Faktor pribadi (intrapersonal) – seberapa baik
seseorang mengenal dirinya dan mampu mengatur emosi serta tindakannya.
Faktor sosial (interpersonal) – kemampuan berempati,
bekerja sama, dan menjaga hubungan dengan orang lain.
Faktor pengelolaan situasi (situation management) –
kemampuan menghadapi perubahan, memimpin, dan menyesuaikan diri dengan kondisi
yang dinamis.
Ketiga faktor ini tidak sekadar soal berpikir logis, tetapi
melibatkan kesadaran, perasaan, dan nilai-nilai kemanusiaan — hal-hal yang
tidak dapat diukur oleh algoritma mana pun. Dalam psikologi, empati terbagi
menjadi tiga jenis: empati kognitif, empati perasaan, dan empati welas asih.
Empati kognitif berarti kemampuan memahami emosi dan
pikiran orang lain secara intelektual — kemampuan pemrosesan pola dan prediksi
statistik yang canggih dibangun oleh manusia, yang memungkinkannya untuk meniru
hasil dari empati kognitif oleh AI.
Empati perasaan berarti kemampuan untuk benar-benar
merasakan emosi orang lain — hal yang hanya bisa dilakukan manusia.
Empati welas asih berarti gabungan kombinasi dari
kemampuan empati kognitif dan perasaan yang mendorong seseorang untuk bertindak
nyata demi meringankan penderitaan orang lain.
Sebuah penelitian berjudul Empati di Dunia Kerja:
Membedakan antara Empati Perasaan dan Empati Kognitif (Vallette
d’Osia dkk., 2024) menjelaskan bahwa empati kognitif membantu seseorang
memahami keadaan emosional orang lain, sedangkan empati perasaan memungkinkan
manusia membangun hubungan yang tulus. AI bisa memahami pola perilaku, tetapi
tidak bisa merasakan kesedihan, kelelahan, atau kegembiraan seseorang secara
nyata.
Artinya, AI bisa mengerti manusia, tapi belum tentu memanusiakan
manusia.
Karena itulah, masa depan bukanlah soal AI
menggantikan manusia, tetapi bagaimana AI dan manusia saling melengkapi.
AI dapat mengambil peran dalam analisis data, pemetaan
pola, dan efisiensi kognitif (empati kognitif), sementara manusia mengambil
peran dalam keputusan moral, komunikasi empatik, dan kepemimpinan yang
berperasaan (empati perasaan).
Bayangkan sebuah organisasi di mana AI membantu
memetakan kondisi psikologis tim melalui data, dan manusia menindaklanjuti
dengan pendekatan emosional dan rasional. Kombinasi ini bisa menciptakan tempat
kerja yang lebih produktif dan sekaligus lebih manusiawi.
Dalam dunia yang semakin sadar akan etika, kemakmuran
tidak lagi diukur dari banyaknya barang mewah, melainkan dari seberapa besar
dampak sosial yang diciptakan.
Barang mewah bisa berubah makna: menjadi bonus
simbolis atas pencapaian sosial, bukan sekadar pamer status.
Membeli mobil listrik bukan lagi sekadar soal gaya,
tapi tentang komitmen pada keberlanjutan. Memiliki jam tangan mewah bukan lagi
pamer, tapi hadiah atas kontribusi terhadap proyek yang membawa perubahan
nyata.
Kita sedang berada di era di mana teknologi berpacu
lebih cepat dan hampir lupa tentang nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, kita
perlu mengembalikan arah: AI bukan pengganti manusia, melainkan cermin
kecerdasan kita sendiri.
Melalui kolaborasi yang etis antara AI dan manusia, kita
bisa memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berpihak pada manusia — bukan
sebaliknya.
Karena kemajuan sejati tidak hanya diukur dari
seberapa efisien mesin bekerja, tetapi juga seberapa adil dan berperasaan
manusia hidup bersama teknologi.
Referensi:
Denny J.A. (2025). Dan Artificial Intelligence Pun
Diangkat Menjadi Menteri.
Takeuchi, H., Taki, Y., Sassa, Y., Hashizume, H.,
Sekiguchi, A., Fukushima, A., & Kawashima, R. (2011). Regional gray matter
density associated with emotional intelligence: Evidence from voxel-based
morphometry. Human Brain Mapping, 32(9), 1497–1510.
Vallette d’Osia, A., & Meier, L. L. (2024). Empathy in the workplace: Disentangling affective from cognitive empathy. Occupational Health Science, 8, 883–904.
(Tulisan ini merupakan salah satu karya peserta bernama Desyka Adji Safitri pada lomba menulis esai nasional 2025 yang diselenggarakan oleh Forum Kreator Era AI (KEAI) dengan tema "Mungkinkah AI Menggantikan Pemimpin Manusia?" pada tanggal 10 November 2025.)
